Ringkasan Khotbah : 06 Mei 2005
|
|
||
|
Hollywood's God
Past & Present 2
|
|||
|
Pengkhotbah : Ev. Hendry
Ongkowidjojo
|
|||
|
|
|||
|
|
|||
|
Setelah minggu lalu kita belajar bagaimana dunia
film berubah dari sebuah hiburan menjadi sebuah seni, film yang selalu
diciptakan berdasarkan filosofi profit oriented, gereja yang pernah
mengabaikan pengaruh sebuah film, maka pada hari ini kita akan belajar sikap
apa saja yang harus kita berikan berkenaan dengan hal-hal demikian. Seperti
yang kita tahu, ketika dunia film mulai meledak, gereja bereaksi dengan
memberikan sebuah sistem badan sensor untuk membatasi perkembangan film.
Kenapa strategi ini kurang efektif? Alasan yang pertama adalah karena
strategi ini menuntut ketergantungan. Hal ketergantungan ini kelihatan
ketika film berubah menjadi sebuah seni, gereja katolik pada waktu itu
menjadi kehilangan dukungan dan kekuatan untuk melakukan sensor. Alasan yang
kedua adalah strategi tersebut sangat bersifat subjektif. Film seperti apa
yang akan lolos dari badan sensor? Itu sebabnya dari dahulu bahkan mungkin
sampai sekarang, film yang lolos sensor pasti dianggap film yang membosankan.
Kenapa? Karena aman. Jadi kalau ada film yang jeleknya minta ampun tapi aman,
pasti lolos. Tapi sebaliknya kalau ada film yang bermutu tapi tidak aman,
pasti kena sensor. Akhirnya strategi ini menyebabkan kalau sebuah film itu
kena sensor, maka film itu justru semakin dicari oleh orang-orang. Kenapa?
Karena semua orang ingin tahu ada apa di dalam film itu.
Strategi lainnya yang mungkin hingga hari ini
masih dipakai adalah pendekatan edukasi atau mendidik. Gereja mulai sadar
bahwa daripada membatasi dunia film yang ada di luar, lebih baik kita
mendidik jemaat kita sendiri yang ada di dalam supaya mereka menjadi
bijaksana untuk memilih film apa yang baik, hiburan apa yang baik. Mengenai
strategi ini, ada beberapa hal penting yang perlu kita ketahui. Yang pertama,
kita perlu mengerti akan natur sebuah film. Itu sebabnya pada minggu lalu
kita belajar dahulu apa saja natur sebuah film, yaitu sebuah seni dan sebuah
hiburan. Ketika sebuah film dibuat dengan natur seni, maka film tersebut
pasti dipikirkan secara baik dan mendetil adegan demi adegan sehingga saling
terkait. Seorang sutradara juga akan memikirkan apa warna tembok yang cocok,
posisi tubuh yang baik, ekspresi tokoh-tokoh figuran, dll. Apakah film
demikian baik? Jangan lupa, sebaik apapun sebuah film, itu juga adalah
sebuah hiburan. Film yang baik itu diciptakan sesuai dengan apa yang
diinginkan oleh pasar (market demand). Sebuah film yang baik sekalipun bisa
dirubah endingnya hanya untuk memenuhi permintaan pasar!
Maka sebagai hiburan, kita perlu bersikap
membatasi diri kita sendiri karena sebuah film jarang sekali dibuat untuk
sesuatu yang idealis. Kalaupun ada, film tersebut juga beresiko besar untuk
tidak laku. Kebanyakan film yang beredar di pasar dan yang paling laku
adalah justru film yang bersifat membius penontonnya dengan mimpi-mimpi sang
sutradara. Kalau kita tidak membatasi diri kita sendiri, maka semakin lama
kita akan menjadi kecanduan karena apa yang kita inginkan selalu bisa
dipenuhi oleh mimpi-mimpi di dalam film-film. Apakah saudara pernah
membayangkan ada seseorang yang menonton film “Titanic” di bioskop hingga
delapan kali? Bukan berarti kita tidak boleh menonton film, mencari hiburan,
tetapi kita perlu membatasi diri kita sendiri. Apakah saudara selama ini
selalu terburu-buru mengejar film-film terbaru? Cobalah melakukan puasa
menonton film, apakah saudara mengalami kegelisahan yang luar biasa? Salah
satu manfaat puasa menonton film adalah saudara akan belajar untuk tidak
membuang-buang waktu.
Cara lain untuk membatasi diri saudara adalah
jangan menonton film-film yang membuat kelemahan saudara semakin terpancing.
Jika saudara tahu bahwa dirimu sangat mudah marah atau emosi, maka jangan
mononton film-film yang memancing emosimu. Apakah hal ini mudah? Mungkin
tidak. Ada seseorang yang tahu bahwa dirinya adalah seorang penakut tetapi
bisa kecanduan menonton “Dunia Lain”. Walaupun dia ketakutan sampai sulit
tidur, dia tetap menonton! Sesungguhnya, tidak semua keinginan dan kebutuhan
kita perlu dipuaskan.
Kemudian, bila kita berbicara film sebagai seni,
ada dua sikap yang perlu kita perhatikan. Yang pertama, kita selalu dapat
belajar dari sebuah film. Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari
sebuah film, tetapi satu hal yang tidak boleh kita cari adalah kebenaran.
Jangan pernah menonton film dengan tujuan untuk mencari kebenaran. Jangan
pernah menonton film untuk mengetahui bagaimana hidup itu sesungguhnya.
Kebenaran itu berasal dari Firman Tuhan. Kita harus bisa bersikap kritis
karena setiap film selalu bersifat sangat persuasif. Contohnya, ada adegan
di dalam film “End of Days” yang menggambarkan setan sedang membujuk tokoh
utamanya ditengah-tengah kekecewaannya terhadap Tuhan. Walaupun akhirnya si
tokoh utama tidak terjebak, apakah kita juga tidak akan terjebaK? Atau
apakah kita akan mulai meragukan Tuhan? Ketika kita jatuh ke dalam
pencobaan, apakah kita percaya bahwa Tuhan memiliki rencana untuk kita? Atau
apakah itu hanyalah alasan untuk menutupi bahwa sesungguhnya Tuhan tidak
peduli kepada kita? Hati-hati, banyak sekali film yang tidak dibangun dengan
wawasan Kristen tetapi dengan wawasan yang sangat duniawi. Apakah saudara
merasa terharu ketika melihat film “Forest Gump”? Itulah bentuk fatalisme.
Film itu menggambarkan bahwa saudara tidak akan pernah tahu apa yang ada di
depan sehingga apapun yang terjadi, jadilah demikian, tidak perlu berpikir
terlalu jauh. Sama seperti sekotak cokelat, saudara tidak akan pernah tahu
apa isi cokelat-cokelat itu. Film tersebut memang sangatlah baik! Tetapi
jangan lupa bahwa film itu tidak kembali kepada apa yang dikatakan Firman
Tuhan.
Lalu kalau tidak ada kebenaran di dalam film,
apa yang dapat kita pelajari? Fakta akan apa yang terjadi di sekeliling kita.
Jangan lupa bahwa film dibuat sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pasar.
Maka, ketika saudara melihat film-film yang beredar sekarang, saudara
mungkin dapat melihat seperti apa keadaan dunia dan zaman kita pada saat ini.
Contoh yang sederhana adalah sebuah album lagu “Green Day” yang
lirik-liriknya dengan jelas menggambarkan betapa takutnya orang-orang
Amerika pasca ledakan WTC. Mereka yang sebelumnya berkata bahwa Amerika
adalah Land of Dream sekarang berkata bahwa kursi rumahnya adalah kursi
listrik bagi dirinya sendiri. Betapa menyedihkan. Apakah album seperti ini
tidak laku? Hingga saat ini sudah laku 2-3 juta buah dan masuk ke dalam
nominasi Grammy Award. Dari sini kita sadar bahwa ketika kita menolak untuk
belajar semuanya ini, kita justru akan semakin jauh dengan dunia yang
seharusnya memerlukan penginjilan dari kita. Tanpa melihat ini, bagaimana
mungkin saudara bisa mengerti seseorang yang tidak memiliki Tuhan dan sedang
berada di dalam kesusahan besar? Saudara tidak mengenal mereka! Saudara
tidak bisa mengerti keadaan mereka karena saudara sudah menerima anugerah
Tuhan yang begitu besar. Bisakah saudara mengerti ada seorang dewasa yang
rela memakai kostum sambil antri tiket bioskop “Star Wars” selama seminggu?
We always know that Christ is The answer, but we never know what is the
question. Melalui film-film yang beredar kita dapat menemukan
pertanyaan-pertanyaan, dan film akan selalu penuh dengan pertanyaan karena
mereka semua memang hidup di dalamnya. Mereka hidup dengan kondisi seperti
itu.
Yang kedua, belajarlah untuk bersikap cermat
ketika saudara menonton film. Pdt. Stephen Tong pernah berkata bahwa melalui
Teologi kita mengerti kebenaran, melalui filsafat kita mengerti musuh,
melalui apologetika kita mengerti bagaimana membela iman, dan melalui
penginjilan kita mengerti bagaimana maju untuk memberitakan injil. Jikalau
saudara sudah menonton banyak film tetapi tetap tidak bisa membedakan mana
film yang baik atau tidak, maka saudara belum melihatnya secara cermat.
Untuk melakukan hal seperti ini, mungkin saudara dapat berdoa sebelum
menonton sebuah film. Berdoalah agar saudara minimal menemukan sesuatu untuk
saudara pergumulkan lebih dalam dan membandingkan jawabannya dengan Firman
Tuhan. Dengan cara seperti ini kita justru mendapatkan penghiburan yang
lebih banyak dan lebih baik daripada hanya dibius oleh film.
Yang ketiga, sikap yang harus kita miliki adalah
kerinduan untuk ditebus. Ketika saudara menonton film, apakah saudara
memiliki kerinduan bahwa suatu hari dunia film juga akan ditebus? Apakah
saudara rindu bahwa suatu hari nanti Tuhan akan dimuliakan melalui film?
Memang hingga hari ini masalah mungkin atau tidak terjadinya hal demikian
masih menjadi perdebatan, tetapi sebagai orang yang sudah ditebus kita
percaya bahwa Tuhan bisa menebus hal yang paling berdosa sekalipun. Inilah
yang menjadi kaitan antara tema kita sekarang dengan perikop yang kita baca
pada hari ini. Ketika saudara membaca bahwa Tuhan menyuruh orang Israel
untuk merampas, apa yang saudara pikirkan? Pdt. Josua Lie mengatakan bahwa
ketika mereka disuruh merampas, Tuhan tidak bertindak semena-mena. Pertama,
karena segala sesuatu yang dirampas itu berasal dari Tuhan. Dan yang kedua,
karena segala kemakmuran itu diperas dari bangsa Tuhan selama ratusan tahun
oleh bangsa Mesir. Melalui perikop ini kita tahu bahwa segala sesuatu yang
baik adalah milik Tuhan dan harus digunakan untuk memuliakan Dia, termasuk
dunia film. Suatu hari, dunia film harus dipakai untuk memuliakan Tuhan.
Suatu hari, Tuhan akan memindahkan dunia film dari kerajaan kegelapan menuju
pada kerajaan Allah sama seperti jiwa kita.
Apakah film Kristen selalu membosankan?
Seharusnya tidak. Ketika Yesus hidup di dunia, seluruh perkataan dan
perbuataan-Nya jauh dari membosankan! Apapun yang Dia lakukan selalu
mengejutkan banyak orang hingga hari ini. Bacalah kisah-kisah yang
menceritakan tentang Elia dan keluarganya, Ayub dan pencobaannya, Saul dan
Daud, bagaimana orang-orang yang sudah habis pengharapan, kalah, tetapi
kemudian tiba-tiba berubah menjadi menang dan memiliki harapan kembali.
Melihat tingkah laku Yesus, setanpun sampai habis pikiran. Banyak hal indah
yang masih dapat digali di dalam Alkitab dan itu dapat dituangkan menjadi
film yang sungguh luar-biasa. Di dalam film-film yang berwawasan Kristen,
saudara tidak akan menemukan jawaban yang klise tetapi itu adalah jawaban
yang terbaik. Film-film seperti itu tidak akan pernah menjadi film-film
murahan. Jika saudara memiliki talenta dalam bidang seni, berdoalah supaya
pekerjaanmu memuliakan Tuhanmu. Tetapi jika saudara tidak memiliki talenta
dalam bidang tersebut, berdoalah syafaat bagi mereka yang memilikinya supaya
Tuhan menggerakkan hati mereka. Amin.
Diposting Oleh : eki kawamasi
| |||
Jumat, 15 Juni 2012
Ringkasan Khotbah (Hollywood's God)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar