| Ringkasan Khotbah : 16 Januari 2004 |
|
||
|
The Call of the Youth:
God in My Lifestyle
|
|||
|
Nats: Dan 1: 11-20
Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno
|
|||
|
Tema “The Call Of The Youth” adalah merupakan
tema yang cukup penting untuk kita pergumulkan khususnya pada awal tahun
2004 karena situasi dan masa depan Indonesia yang semakin tidak jelas bahkan
bisa sangat menyulitkan hidup kita. Dari hari ke hari semakin banyak
filsafat, tipuan, rayuan yang terus-menerus menghantam dan menarik kita
untuk meninggalkan iman kristen yang sejati. Jadi apabila pada saat ini kita
melihat situasi yang kelihatannya baik dan aman tetapi dibalik semua
kebaikan itu tersembunyi intrik dan permainan yang siap mengalahkan iman
kita. Yang paling dekat pada tahun ini adalah Pemilu, begitu banyak partai
baru yang muncul dalam dunia politik yang siap dengan semua janji-jani manis
untuk masyarakat. Janji-janji palsu itu ditebarkan untuk mencari kekuatan
dan kekuasaan bagi diri mereka sendiri sehingga didalam situasi seperti itu,
apakah kita sudah cukup peka terhadap segala permainan tersebut ? Atau
jangan-jangan malah kita yang mempermainkan orang lain karena pada waktu itu
terjadi, mungkin kita tidak menyadarinya. Kalau dipermainkan oleh orang
lain, pasti terasa. Tetapi kalau mempermainkan orang lain, belum tentu
terasa. Selain itu, masa pemuda juga merupakan waktu dimana para
pemuda-pemudi mulai membangun tatanan hidup untuk masa depan baik itu
karier, pernikahan, dll. Maka ditengah-tengah situasi yang absurd, bagaimana
kita dapat membangun tatanan tersebut secara tepat. Hal tersebut bagaikan
kapal yang berada di laut yang penuh dengan gelombang yang bergolak sehingga
mau tidak mau kita juga akan ikut bergolak. Masalahnya, apakah kita akan
tenggelam atau tidak ?
Pada minggu lalu kita telah belajar bagaimana
untuk hidup sebagai anak Tuhan. Disitu kita belajar hal yang paling penting
adalah identitas. Pada zaman sekarang, dunia semakin menginginkan bahkan
membentuk kita agar tidak memiliki identitas. Inilah tantangan kita. bagi
dunia setiap manusia adalah incognito yang berarti tidak memiliki nama.
Walaupun dunia menawarkan “nama” tetapi nama tersebut tidak pernah
menjelaskan siapa orangnya. “Nama” tersebut adalah nama yang tidak ada
artinya sehingga setiap saat bisa diganti dengan “nama-nama” yang lain. Pada
waktu itu, setiap orang bisa ganti-ganti identitas. Kenapa dunia mengajarkan
hal seperti ini ? karena dunia sangat membenci manusia yang identitasnya
jelas. Setiap kali engkau menjelaskan dan mempertajam siapa dirimu, orang
lain pasti akan semakin membencimu bahkan menyerangmu. Contoh yang paling
sederhana adalah ketika kita menjadi orang kristen, kita sering kali sudah
ketakutan ketika kita ingin bilang siapa diri kita. Kita lebih memilih untuk
tidak usah menyebutkan identitas itu. Inilah beberapa alasan kenapa kali ini
kita mengambil tema “The Call Of The Youth”. Tuhan, kalau aku mau menjadi
anakMu, apakah itu artinya ?, siapakah aku ? ketika semua panggilan kita
sebagai anak Tuhan menjadi jelas, maka itulah kekuatan kita dalam melangkah
menuju masa depan.
Abraham Kuyper dapat menjadi contoh bagaimana
dirinya sebagai anak Tuhan, ternyata Tuhan bekerja di segala bidang
hidupnya. Beliau adalah seorang kristen, teolog, filsuf, scientist, dan
politikus (perdana menteri). Dan beliau pernah mengatakan bahwa didalam
seluruh hidupnya, beliau tidak pernah membiarkan satu inci-pun di sepanjang
hidupnya yang terlepas dari pemeliharaan Tuhan. Orang yang begitu intelek
dan hidup ditengah-tengah dunia yang paling kotor (politik) ternyata dapat
berdiri tegak dan berani menyatakan imannya dengan tegas. Mungkinkah hal
yang sama dapat terjadi pada diri kita ? Pada saat ini kita bukan saja
belajar dari seorang Abraham Kuyper tetapi juga dari seorang tokoh Alkitab,
yaitu Daniel. Daniel mirip dengan kita bahkan lebih parah dari kita karena
dia hidup ditengah-tengah masyarakat kafir, liar, dan mempunyai sifat yang
kejam luar biasa.
Jika pada minggu lalu kita telah melihat
lingkaran yang terkecil, yaitu profesi kita, maka pada minggu ini kita akan
melihat lingkaran yang lebih besar, yaitu lifestyle (pola hidup). Lifestyle
tidak hanya mencakup jam-jam sekolah/bekerja tetapi keseluruhan hidup kita
dari pagi hingga malam. Sebelum Daniel dan teman-temannya akan dipakai oleh
raja, mereka harus “dipersiapkan” terlebih dahulu dengan makanan dan minuman
kerajaan sehingga diharapkan mereka akan menjadi orang-orang yang memenuhi
standar “versi” dunia atau lifestyle orang babel (bangsa kasdim). Perlu kita
ketahui bahwa lifestyle masyarakat babel tidak terlalu rendah walaupun liar.
Mereka mempunyai otak yang pandai, fisik yang kuat, dan kekuatan militer
yang besar sehingga mereka sangat ditakuti oleh bangsa-bangsa lain[1].
Tetapi tawaran ini ditolak oleh Daniel dan teman-temannya. Makanan dan
minuman raja yang mempunyai kualitas nomor satu dan tidak pernah diberikan
kepada orang lain malah ditolak dan minta ganti menu sayur dan air biasa.
Sekarang pertanyaannya adalah apa yang ada dibelakang keputusan Daniel ?
Kenapa dia minta sayur ?
Jawabannya adalah lifestyle. Daniel tidak mau
lifestyle babel melekat pada dirinya karena itu akan merubah semua sikap dan
pemikiran hidupnya. Akibatnya Daniel mempertahankan lifestyle yang asli dan
lifestyle itu adalah lifestyle yang diuji di hadapan Tuhan. Lalu seperti
bagamanakah persisnya lifestyle kristiani ? apakah harus hidup melarat ?
apakah harus jadi bodoh karena tulus ? Kita hidup ditengah-tengah dunia
beserta lifestyle-nya yang rusak. Maka jika kita tidak dapat mengetahui
lifestyle yang benar, dunia akan siap menerjang kita. Kita harus tahu
bagaimana kita harus hidup sebagai anak Allah terlepas dari apakah kita
mampu melakukannya atau tidak. Walaupun kita sudah tahu, masalahnya berani
menjalankan atau tidak ? Apalagi kalau belum tahu. Cara hidup Daniel sangat
berbeda dengan budaya setempat dan pada waktu seperti itu dia harus menerima
banyak sekali tantangan.
Lifestyle sangat berhubungan dengan sesuatu
dengan bersifat eksternal karena itulah kehidupan kita setiap harinya. Dan
sesuatu yang bersifat eksternal pasti merupakan produk dari sesuatu yang
bersifat internal. Apa yang kita imani, disitulah pikiran kita. Dan apa yang
ada dipikiran kita, itulah yang akan menjadi dasar dari setiap perbuatan
kita. Jadi pada hakekatnya kehendak tidak pernah bebas karena kehendak
adalah produk dari pikiran atau perasaan kita. Dan pikiran maupun perasaan
adalah produk dari rasio/otak. Itu sebabnya gerakan reformed tidak percaya
kepada ajaran “kehendak bebas” tetapi percaya kepada kehendak yang
bertanggung jawab. Contoh yang paling sederhana : kalau kita memilih suatu
jalan dari banyak jalan, pertanyaannya adalah kenapa kita memilih jalan itu
sehingga kalau ternyata kita salah jalan, kita harus rela menerima
hukumannya.
Inilah yang menjadi landasan dari keputusan
Daniel. Jika dia beriman kepada Allah Jehovah, apa yang dia harus lakukan ?
Alkitab mencatat bahwa Daniel tidak mau menajiskan dirinya. Inilah produk
imannya. Dia tidak mau apapun yang berasal dari luar mengotori dirinya agar
tidak ada seorangpun yang bisa mencela dirinya. Jadi bagaimanakah lifetstyle
yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang kristen ?
Yang terutama, Tuhan tidak pernah menciptakan
kehidupan kristen dengan bentuk yang seragam. Manusia adalah manusia, bukan
mesin yang harus diciptakan dengan seragam. Tuhan mengijinkan setiap manusia
untuk memperkembangkan keunikan yang ada pada diri masing-masing. Jadi
Walaupun Kita tidak perlu atau bahkan tidak mungkin bisa sama seperti Daniel
tetapi perkembangan lifetsyle itu sendiri harus mempunyai standar/batasan,
yaitu : kesucian dan kesalehan. Daniel tahu kalau Tuhan itu suci
sehingga dia juga berusaha untuk semakin hari semakin suci. Sifat kesucian
dan kesalehan tidak mungkin dimiliki oleh kehidupan duniawi karena orang
dunia selalu menghindar dari Tuhan.
Tantangan yang paling besar untuk menjalankan
lifestyle yang baik adalah masalah keberanian. Ketika kita mengetahui
bagaimana harus hidup benar, sering kali kita merasa takut untuk
menjalankannya karena kita anggap kehidupan yang seperti itu pasti tidak
enak seperti orang yang patut dkasihani. Alkitab tidak pernah mengajarkan
hal seperti ini. Tuhan bahkan bilang kalau kita sedang puasa, tunjukkan
wajah yang segar sehingga orang lain tidak tahu. Kalau kita memang
benar-benar beriman dan iman itu teraplikasi kepada setiap tindakan kita,
Tuhan akan menghargai usaha itu, bukan manusia yang rendah dan berdosa.
Terlebih lagi Daniel percaya bahwa Tuhan juga akan bertanggung jawab atas
iman dan perbuatannya.
Selain itu, dunia juga selalu menekankan kalau
kita hidup didunia ini tidak mungkin bisa hidup beriman. Dan kalaupun
mungkin pasti hidup kita bakal susah. Padahal anggapan seperti ini adalah
tidak masuk logika. Justru kalau kita mempunyai Tuhan, kita tidak akan
merasa susah menjalani hidup ini. Apakah orang yang tidak punya Tuhan
hidupnya tidak susah ? Tuhan pasti memelihara kita, itulah jaminanNya. Anak
setan selalu bilang kalau hidup beriman itu tidak mungkin karena memang bagi
dia itu adalah tidak mungkin. Daniel sudah membuktikannya dan bahkan dia
menjadi orang yang terbaik di tengah-tengah bangsa yang besar.
Jikalau kita sebagai pemuda-pemudi kristen
mempunyai suatu lifestyle yang begitu kristiani, maka sebenarnya banyak
orang yang akan rindu untuk menjadi sahabat kita. Mereka tahu bahwa orang
kristen yang baik selalu dapat dipercaya, mempunyai hati yang tulus, dan
pasti aman. Mungkin pada saat ini kita sulit untuk mempercayai hal seperti
ini karena memang semakin banyaknya orang kristen yang brengsek. Kita harus
dapat menjadi teladan atau bahkan menjadi berkat bagi banyak orang, bukan
malah selalu menipu atau merugikan orang lain.
Tantangan kedua yang sangat menyulitkan kita
adalah bagaimana mengkaitkan iman kita dengan nilai terbesar yang ada di
dunia. Jika kita dapat meraih nilai yang tinggi di dunia ini, maka kita akan
mempunyai hidup yang anggun. Tetapi hal seperti ini tentu tidak mudah karena
dunia mendorong kita untuk selalu hidup didalam kehinaan. Bagi kebanyakan
manusia, apa yang hina itulah yang dianggap modern sehingga banyak juga
orang kristen yang akhirnya takut dicap “kuno”. Inilah dunia kita dan
semakin lama moralitas global akan semakin rusak dan hina. Mungkin pada hari
ini moralitas bangsa Indonesia masih lebih baik sedikit daripada Amerika,
tetapi 10 tahun kedepan mungkin udah sama atau bahkan berlomba-lomba untuk
semakin rusak. Maka beranikah kita untuk tetap berenang naik walaupun arus
sungai terus menurun ? Beranikah kita tetap mempertahankan hidup suci ?
Demikianlah Daniel. Daniel tidak mau apa yang najis menyentuh dirinya karena
pada waktu itu terjadi dia akan ikut menjadi najis dan kotor dihadapan Bapa.
Demikianlah seharusnya kita. Kenyataan disekeliling memang seperti itu
tetapi bagaimana kita harus tetapi memegang teguh kemuliaan Tuhan yang
diberikan kepada kita sehingga kita tidak ikut menjadi hina dan menjijikan.
Uang tidak akan pernah bisa membuat kita menjadi mulia dan anggun. Lihatlah
disekeliling ataupun di berbagai media, begitu banyak orang yang justru kaya
tetapi hinanya juga luar biasa sehingga rasanya tidak layak untuk masuk
media apalagi untuk dihargai.
Secara fisik dan pengelihatan mata, Daniel
adalah seorang yang seharusnya merasa minder terhadap dirinya sendiri.
Kenapa ? karena dia adalah orang buangan. Tetapi kenyataanya tidak ada
satupun yang menghina dia karena dia terbukti bisa menjaga kemuliaan dan
keanggunan dirinya. Tidak ada orang yang bisa menjaga harkat dan harga diri
Daniel selain dirinya sendiri. Jadi kalau sampai ada orang yang menghina
kita, kita harus introspeksi diri karena kemungkinan terbesar penyebabnya
adalah salah kita sendiri. Kita sebagai pemuda-pemudi yang masih mempunyai
masa depan yang panjang harus hati-hati menjaga hidup kita karena kalau
sampai hidup kita penuh dengan penghinaan dari orang-orang lain, suatu saat
kita mungkin bisa bunuh diri karena tidak tahan akan segala penghinaan
tersebut. Kita akan bunuh diri karena kita merasa bahwa diri kita sudah
tidak ada harganya lagi.
Hal terakhir, lifestyle tidak bisa dibangun
hanya dengan sehari atau dua hari tetapi harus menjadi kebiasaan. Dan
kebiasaan tersebut harus berjalan setiap saat dan dimanapun juga walaupun
pasti banyak resiko. Jika Daniel tidak menjaga hidupnya, dia tidak akan
pernah menjadi orang kedua setelah kaisar. Dan dia bukan baru saja menjadi
tangan kanan tetapi mulai dari raja nebukadnezar hingga raja Darius. Tanpa
adanya lifestyle yang baik, tidak ada cerita tentang Daniel. Jangan sampai
kita menjadi anak manis di gereja tetapi jadi anak durhaka di rumah. Makanya
banyak hamba Tuhan yang juga tidak mau tinggal di gereja karena mereka semua
takut tidak mempunyai privasi/kehidupan pribadi. Mereka takut kehidupan
pribadi mereka dilihat oleh jemaat atau orang lain karena tindak tanduk
mereka waktu di gereja memang tidak sama dengan waktu di rumah. Padahal
dengan tinggal di gereja, hamba-hamba Tuhan tersebut sebenarnya memperoleh
banyak keuntungan dan efisiensi, tetapi kenapa banyak orang malah menolaknya
? itu karena banyak topeng yang sering mereka pakai dan mereka tidak ingin
topeng-topeng tersebut diketahui oleh orang lain. Kita seharusnya menjadi
saksi bagi orang lain sehingga mereka mau meniru lifestyle kita, bukannya
main sembunyi-sembunyi. Pada saat seperti inilah kita perlu bertanya pada
diri kita sendiri apakah kita anak Tuhan atau anak setan ? bukankah kalau
kita anak Tuhan, hal itu akan mewarnai setiap aspek hidup kita ? Dan apabila
hidup kita seperti itu, bukankah itu adalah hal yang baik untuk dibagikan
kepada orang lain ? inilah ujian bagi setiap kita. Jadilah sama seperti
Daniel yang tidak takut untuk diuji oleh orang lain. Jangan sampai suatu
ketika orang terkejut karena mereka menemukan topeng kita, kepura-puraan
kita.
Diposting Oleh : eki kawamasi
| |||
Jumat, 15 Juni 2012
Ringkasan Khotbah (The Call of the Youth: God in My Lifestyle)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar