Jumat, 15 Juni 2012

Ringkasan Khotbah (The Call of the Youth: God in My Lifestyle)

Ringkasan Khotbah : 16 Januari 2004
The Call of the Youth: God in My Lifestyle
Nats: Dan 1: 11-20
Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno
Tema “The Call Of The Youth” adalah merupakan tema yang cukup penting untuk kita pergumulkan khususnya pada awal tahun 2004 karena situasi dan masa depan Indonesia yang semakin tidak jelas bahkan bisa sangat menyulitkan hidup kita. Dari hari ke hari semakin banyak filsafat, tipuan, rayuan yang terus-menerus menghantam dan menarik kita untuk meninggalkan iman kristen yang sejati. Jadi apabila pada saat ini kita melihat situasi yang kelihatannya baik dan aman tetapi dibalik semua kebaikan itu tersembunyi intrik dan permainan yang siap mengalahkan iman kita. Yang paling dekat pada tahun ini adalah Pemilu, begitu banyak partai baru yang muncul dalam dunia politik yang siap dengan semua janji-jani manis untuk masyarakat. Janji-janji palsu itu ditebarkan untuk mencari kekuatan dan kekuasaan bagi diri mereka sendiri sehingga didalam situasi seperti itu, apakah kita sudah cukup peka terhadap segala permainan tersebut ? Atau jangan-jangan malah kita yang mempermainkan orang lain karena pada waktu itu terjadi, mungkin kita tidak menyadarinya. Kalau dipermainkan oleh orang lain, pasti terasa. Tetapi kalau mempermainkan orang lain, belum tentu terasa. Selain itu, masa pemuda juga merupakan waktu dimana para pemuda-pemudi mulai membangun tatanan hidup untuk masa depan baik itu karier, pernikahan, dll. Maka ditengah-tengah situasi yang absurd, bagaimana kita dapat membangun tatanan tersebut secara tepat. Hal tersebut bagaikan kapal yang berada di laut yang penuh dengan gelombang yang bergolak sehingga mau tidak mau kita juga akan ikut bergolak. Masalahnya, apakah kita akan tenggelam atau tidak ?
Pada minggu lalu kita telah belajar bagaimana untuk hidup sebagai anak Tuhan. Disitu kita belajar hal yang paling penting adalah identitas. Pada zaman sekarang, dunia semakin menginginkan bahkan membentuk kita agar tidak memiliki identitas. Inilah tantangan kita. bagi dunia setiap manusia adalah incognito yang berarti tidak memiliki nama. Walaupun dunia menawarkan “nama” tetapi nama tersebut tidak pernah menjelaskan siapa orangnya. “Nama” tersebut adalah nama yang tidak ada artinya sehingga setiap saat bisa diganti dengan “nama-nama” yang lain. Pada waktu itu, setiap orang bisa ganti-ganti identitas. Kenapa dunia mengajarkan hal seperti ini ? karena dunia sangat membenci manusia yang identitasnya jelas. Setiap kali engkau menjelaskan dan mempertajam siapa dirimu, orang lain pasti akan semakin membencimu bahkan menyerangmu. Contoh yang paling sederhana adalah ketika kita menjadi orang kristen, kita sering kali sudah ketakutan ketika kita ingin bilang siapa diri kita. Kita lebih memilih untuk tidak usah menyebutkan identitas itu. Inilah beberapa alasan kenapa kali ini kita mengambil tema “The Call Of The Youth”. Tuhan, kalau aku mau menjadi anakMu, apakah itu artinya ?, siapakah aku ? ketika semua panggilan kita sebagai anak Tuhan menjadi jelas, maka itulah kekuatan kita dalam melangkah menuju masa depan.
Abraham Kuyper dapat menjadi contoh bagaimana dirinya sebagai anak Tuhan, ternyata Tuhan bekerja di segala bidang hidupnya. Beliau adalah seorang kristen, teolog, filsuf, scientist, dan politikus (perdana menteri). Dan beliau pernah mengatakan bahwa didalam seluruh hidupnya, beliau tidak pernah membiarkan satu inci-pun di sepanjang hidupnya yang terlepas dari pemeliharaan Tuhan. Orang yang begitu intelek dan hidup ditengah-tengah dunia yang paling kotor (politik) ternyata dapat berdiri tegak dan berani menyatakan imannya dengan tegas. Mungkinkah hal yang sama dapat terjadi pada diri kita ? Pada saat ini kita bukan saja belajar dari seorang Abraham Kuyper tetapi juga dari seorang tokoh Alkitab, yaitu Daniel. Daniel mirip dengan kita bahkan lebih parah dari kita karena dia hidup ditengah-tengah masyarakat kafir, liar, dan mempunyai sifat yang kejam luar biasa.
Jika pada minggu lalu kita telah melihat lingkaran yang terkecil, yaitu profesi kita, maka pada minggu ini kita akan melihat lingkaran yang lebih besar, yaitu lifestyle (pola hidup). Lifestyle tidak hanya mencakup jam-jam sekolah/bekerja tetapi keseluruhan hidup kita dari pagi hingga malam. Sebelum Daniel dan teman-temannya akan dipakai oleh raja, mereka harus “dipersiapkan” terlebih dahulu dengan makanan dan minuman kerajaan sehingga diharapkan mereka akan menjadi orang-orang yang memenuhi standar “versi” dunia atau lifestyle orang babel (bangsa kasdim). Perlu kita ketahui bahwa lifestyle masyarakat babel tidak terlalu rendah walaupun liar. Mereka mempunyai otak yang pandai, fisik yang kuat, dan kekuatan militer yang besar sehingga mereka sangat ditakuti oleh bangsa-bangsa lain[1]. Tetapi tawaran ini ditolak oleh Daniel dan teman-temannya. Makanan dan minuman raja yang mempunyai kualitas nomor satu dan tidak pernah diberikan kepada orang lain malah ditolak dan minta ganti menu sayur dan air biasa. Sekarang pertanyaannya adalah apa yang ada dibelakang keputusan Daniel ? Kenapa dia minta sayur ?
Jawabannya adalah lifestyle. Daniel tidak mau lifestyle babel melekat pada dirinya karena itu akan merubah semua sikap dan pemikiran hidupnya. Akibatnya Daniel mempertahankan lifestyle yang asli dan lifestyle itu adalah lifestyle yang diuji di hadapan Tuhan. Lalu seperti bagamanakah persisnya lifestyle kristiani ? apakah harus hidup melarat ? apakah harus jadi bodoh karena tulus ? Kita hidup ditengah-tengah dunia beserta lifestyle-nya yang rusak. Maka jika kita tidak dapat mengetahui lifestyle yang benar, dunia akan siap menerjang kita. Kita harus tahu bagaimana kita harus hidup sebagai anak Allah terlepas dari apakah kita mampu melakukannya atau tidak. Walaupun kita sudah tahu, masalahnya berani menjalankan atau tidak ? Apalagi kalau belum tahu. Cara hidup Daniel sangat berbeda dengan budaya setempat dan pada waktu seperti itu dia harus menerima banyak sekali tantangan.
Lifestyle sangat berhubungan dengan sesuatu dengan bersifat eksternal karena itulah kehidupan kita setiap harinya. Dan sesuatu yang bersifat eksternal pasti merupakan produk dari sesuatu yang bersifat internal. Apa yang kita imani, disitulah pikiran kita. Dan apa yang ada dipikiran kita, itulah yang akan menjadi dasar dari setiap perbuatan kita. Jadi pada hakekatnya kehendak tidak pernah bebas karena kehendak adalah produk dari pikiran atau perasaan kita. Dan pikiran maupun perasaan adalah produk dari rasio/otak. Itu sebabnya gerakan reformed tidak percaya kepada ajaran “kehendak bebas” tetapi percaya kepada kehendak yang bertanggung jawab. Contoh yang paling sederhana : kalau kita memilih suatu jalan dari banyak jalan, pertanyaannya adalah kenapa kita memilih jalan itu sehingga kalau ternyata kita salah jalan, kita harus rela menerima hukumannya.
Inilah yang menjadi landasan dari keputusan Daniel. Jika dia beriman kepada Allah Jehovah, apa yang  dia harus lakukan ? Alkitab mencatat bahwa Daniel tidak mau menajiskan dirinya. Inilah produk imannya. Dia tidak mau apapun yang berasal dari luar mengotori dirinya agar tidak ada seorangpun yang bisa mencela dirinya. Jadi bagaimanakah lifetstyle yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang kristen ?
Yang terutama, Tuhan tidak pernah menciptakan kehidupan kristen dengan bentuk yang seragam. Manusia adalah manusia, bukan mesin yang harus diciptakan dengan seragam. Tuhan mengijinkan setiap manusia untuk memperkembangkan keunikan yang ada pada diri masing-masing. Jadi Walaupun Kita tidak perlu atau bahkan tidak mungkin bisa sama seperti Daniel tetapi perkembangan lifetsyle itu sendiri harus mempunyai standar/batasan, yaitu : kesucian dan kesalehan. Daniel tahu kalau Tuhan itu suci sehingga dia juga berusaha untuk semakin hari semakin suci. Sifat kesucian dan kesalehan tidak mungkin dimiliki oleh kehidupan duniawi karena orang dunia selalu menghindar dari Tuhan.
Tantangan yang paling besar untuk menjalankan lifestyle yang baik adalah masalah keberanian. Ketika kita mengetahui bagaimana harus hidup benar, sering kali kita merasa takut untuk menjalankannya karena kita anggap kehidupan yang seperti itu pasti tidak enak seperti orang yang patut dkasihani. Alkitab tidak pernah mengajarkan hal seperti ini. Tuhan bahkan bilang kalau kita sedang puasa, tunjukkan wajah yang segar sehingga orang lain tidak tahu. Kalau kita memang benar-benar beriman dan iman itu teraplikasi kepada setiap tindakan kita, Tuhan akan menghargai usaha itu, bukan manusia yang rendah dan berdosa. Terlebih lagi Daniel percaya bahwa Tuhan juga akan bertanggung jawab atas iman dan perbuatannya.
Selain itu, dunia juga selalu menekankan kalau kita hidup didunia ini tidak mungkin bisa hidup beriman. Dan kalaupun mungkin pasti hidup kita bakal susah. Padahal anggapan seperti ini adalah tidak masuk logika. Justru kalau kita mempunyai Tuhan, kita tidak akan merasa susah menjalani hidup ini. Apakah orang yang tidak punya Tuhan hidupnya tidak susah ? Tuhan pasti memelihara kita, itulah jaminanNya. Anak setan selalu bilang kalau hidup beriman itu tidak mungkin karena memang bagi dia itu adalah tidak mungkin. Daniel sudah membuktikannya dan bahkan dia menjadi orang yang terbaik di tengah-tengah bangsa yang besar.
Jikalau kita sebagai pemuda-pemudi kristen mempunyai suatu lifestyle yang begitu kristiani, maka sebenarnya banyak orang yang akan rindu untuk menjadi sahabat kita. Mereka tahu bahwa orang kristen yang baik selalu dapat dipercaya, mempunyai hati yang tulus, dan pasti aman. Mungkin pada saat ini kita sulit untuk mempercayai hal seperti ini karena memang semakin banyaknya orang kristen yang brengsek. Kita harus dapat menjadi teladan atau bahkan menjadi berkat bagi banyak orang, bukan malah selalu menipu atau merugikan orang lain.
Tantangan kedua yang sangat menyulitkan kita adalah bagaimana mengkaitkan iman kita dengan nilai terbesar yang ada di dunia. Jika kita dapat meraih nilai yang tinggi di dunia ini, maka kita akan mempunyai hidup yang anggun. Tetapi hal seperti ini tentu tidak mudah karena dunia mendorong kita untuk selalu hidup didalam kehinaan. Bagi kebanyakan manusia, apa yang hina itulah yang dianggap modern sehingga banyak juga orang kristen yang akhirnya takut dicap “kuno”. Inilah dunia kita dan semakin lama moralitas global akan semakin rusak dan hina. Mungkin pada hari ini moralitas bangsa Indonesia masih lebih baik sedikit daripada Amerika, tetapi 10 tahun kedepan mungkin udah sama atau bahkan berlomba-lomba untuk semakin rusak. Maka beranikah kita untuk tetap berenang naik walaupun arus sungai terus menurun ? Beranikah kita tetap mempertahankan hidup suci ? Demikianlah Daniel. Daniel tidak mau apa yang najis menyentuh dirinya karena pada waktu itu terjadi dia akan ikut menjadi najis dan kotor dihadapan Bapa. Demikianlah seharusnya kita. Kenyataan disekeliling memang seperti itu tetapi bagaimana kita harus tetapi memegang teguh kemuliaan Tuhan yang diberikan kepada kita sehingga kita tidak ikut menjadi hina dan menjijikan. Uang tidak akan pernah bisa membuat kita menjadi mulia dan anggun. Lihatlah disekeliling ataupun di berbagai media, begitu banyak orang yang justru kaya tetapi hinanya juga luar biasa sehingga rasanya tidak layak untuk masuk media apalagi untuk dihargai.
Secara fisik dan pengelihatan mata, Daniel adalah seorang yang seharusnya merasa minder terhadap dirinya sendiri. Kenapa ? karena dia adalah orang buangan. Tetapi kenyataanya tidak ada satupun yang menghina dia karena dia terbukti bisa menjaga kemuliaan dan keanggunan dirinya. Tidak ada orang yang bisa menjaga harkat dan harga diri Daniel selain dirinya sendiri. Jadi kalau sampai ada orang yang menghina kita, kita harus introspeksi diri karena kemungkinan terbesar penyebabnya adalah salah kita sendiri. Kita sebagai pemuda-pemudi yang masih mempunyai masa depan yang panjang harus hati-hati menjaga hidup kita karena kalau sampai hidup kita penuh dengan penghinaan dari orang-orang lain, suatu saat kita mungkin bisa bunuh diri karena tidak tahan akan segala penghinaan tersebut. Kita akan bunuh diri karena kita merasa bahwa diri kita sudah tidak ada harganya lagi.
Hal terakhir, lifestyle tidak bisa dibangun hanya dengan sehari atau dua hari tetapi harus menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan tersebut harus berjalan setiap saat dan dimanapun juga walaupun pasti banyak resiko. Jika Daniel tidak menjaga hidupnya, dia tidak akan pernah menjadi orang kedua setelah kaisar. Dan dia bukan baru saja menjadi tangan kanan tetapi mulai dari raja nebukadnezar hingga raja Darius. Tanpa adanya lifestyle yang baik, tidak ada cerita tentang Daniel. Jangan sampai kita menjadi anak manis di gereja tetapi jadi anak durhaka di rumah. Makanya banyak hamba Tuhan yang juga tidak mau tinggal di gereja karena mereka semua takut tidak mempunyai privasi/kehidupan pribadi. Mereka takut kehidupan pribadi mereka dilihat oleh jemaat atau orang lain karena tindak tanduk mereka waktu di gereja memang tidak sama dengan waktu di rumah. Padahal dengan tinggal di gereja, hamba-hamba Tuhan tersebut sebenarnya memperoleh banyak keuntungan dan efisiensi, tetapi kenapa banyak orang malah menolaknya ? itu karena banyak topeng yang sering mereka pakai dan mereka tidak ingin topeng-topeng tersebut diketahui oleh orang lain. Kita seharusnya menjadi saksi bagi orang lain sehingga mereka mau meniru lifestyle kita, bukannya main sembunyi-sembunyi. Pada saat seperti inilah kita perlu bertanya pada diri kita sendiri apakah kita anak Tuhan atau anak setan ? bukankah kalau kita anak Tuhan, hal itu akan mewarnai setiap aspek hidup kita ? Dan apabila hidup kita seperti itu, bukankah itu adalah hal yang baik untuk dibagikan kepada orang lain ? inilah ujian bagi setiap kita. Jadilah sama seperti Daniel yang tidak takut untuk diuji oleh orang lain. Jangan sampai suatu ketika orang terkejut karena mereka menemukan topeng kita, kepura-puraan kita. 

Diposting Oleh : eki kawamasi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar